MAKALAH
KONTRIBUSI SOSIOLOGI DALAM PENDIDIKAN
Diajukan Untuk
Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Drs. Asep Mulyana M.Si.
Disusun oleh :
Kelompok 2
1.
Aenul Fahmi
2. Hanifah Eka S
3. Tri Asih
4.
Windi
Arofah
TARBIYAH
IPA-BIOLOGI-C/III
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2013/2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kontribusi sosiologi pada dunia pendidikan menyajikan semacam
ancar-ancar bagi praktisi pendidikan, yaitu mengenai beberapa kontribusi
spesifik dari analis sosiologi terhadap bidang pendidikan. Fokos bahasan ini
memeang pada suatu perangkat subtantif kontribusi sosiologis yang dari padanya
para praktisis seperti guru, penilik, kepela sekolah atau pengawas dapat mengambil menfaatnya
secara realistis dan efektif didalam lingkungan pekerjaan masing-masing.
Untuk mengambarkan kontribusi sosiologis terhadap bidang pendidikan
ternyata ada banyak pendekatan yang mungkin lazim dipergunakan. Macam-macam
pendekatan yang dimaksud digunakan juga sesuai dengan arahan bahasa ini.
Kontribusi-kontribusi spesifik dari sosiologi didalam pendidikan tertuang dalam
tigapokok bahasan judul ketigannya
bertolak dari sorotan sosiologis dalam menelaah persekolahan sebagai system
social fungsional. Pada pokok bahasan
pertama melihat hubungan-hubungan dalam dunia pendidikan sebagai suatu
yang berlangsung dalam konteks suatu organisasi formal. Pada pokok bahasan
kedua tinjauan dari fakta tugas pokok persekolahan (transaksi pendidikan)
terutama berlangsung pada system sosial yang relatif kecil, yaitu dimana ruang
kelas. Sedangkan pokok bahasan ketiga, tinjauannya bertolak dari realitas
dimana system persekolahan tidak pernah terlepas dari lingkungan luarnya.
Seperti pada semua organisasi, ia dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan
eksternalnya. Ketiga tinjauan tersebut diajukan sebagai ancar-ancar untuk
menunjukan beberapa kontribusi sosiologi bagi para praktisi didunia pendidikan.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, terdapat beberapa rumusan masalah yang dipaparkan antara
lain:
1.
Mengapa
sistem persekolahan sebagai suatu organisasi formal?
2.
Bagaimanakah
kegiatan kelas sebagai suatu sistem sosial?
3.
Apa
saja yang menyangkut tentang lingkungan eksternal persekolahan?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui sistem persekolahan sebagai suatu organisasi formal.
2.
Untuk
mengetahui kegiatan kelas sebagai suatu sistem sosial.
3.
Untuk
mengetahui lingkungan eksternal persekolahan.
BAB II
ISI
Seiring dengan bergulirnya roda sejarah kehidupan, maka prestasi
pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh manusia menjdai semakin kompleks,
sehingga pada fase inilah konsep pengetahuan dan kemampuan-kemampuan
gemilangnya telah menjadi penentu arah kehidupan dimasa yang akan datang.
Beberapa faktor inilah terbentuknya lembaga-lembaga tertentu untuk mengelola
alokasi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan didalam kehidupan diantaranya:
1.
Pertumbuhan
jumlah populasi manusia manusia yang mempengaruhi tingkat penguasaan dan
ketersediaan sumber daya alam.
2.
Kompleksnya
pranata kebudayaan dan mekanisme pengetahuan beserta teknologi terapan, dan
3.
Implikasi
tingkat akal budi dan mentalitas manusia yang kian rasional.
Secara singkat, terbentuknya lembaga pendidikan merupakan konsekuensi
logis dari taraf perkembangan masyarakat yang lebih kompkeks. Sehingga untuk
mengorganisasikan perangkat-perangkat pengetahuan dan keterampilan tidak
memungkinkan ditangani secara langsung oleh masing-masing keluarga. Perlunya
pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan apresiasi pengetahuan
serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepada para generasi muda agar
terjamin kelestariannya merupakan cetak biru kekuatan yang melatar belakangi
berdirinya lembaga pendidikan. Disinilah kontribusi sosiologi dalam pendidikan
diperlukan yaitu diantaranya:
A.
Sistem
Persekolahan Sebagai Suatu Organisasi Formal.
Sekolah sebagai
suatu sistem. menurut sudut tinjauan sosiologi, juga memiliki banyak
karakteristik umum sebagaimana pada jenis-jenis organisasi lainnya yang
berskala luas. Dua diantara karakteristik tersebut, kiranya relevan dengan
maksud bahasan ini. Pertama, sistem persekolahan, sebagaimana
organisasi-organisasi bisnis dan rumah sakit, jelas mempunyai suatu tujuan
organisasi. Tujuan itulah yang menjadi arah dan mengarahkan sistem sosial
bersangkutan. Kedua, dalam organisasi persekolahan terdapat suatu arus jaringan
kerja dari sejumlah posisi yang saling terkait (seperti guru, supervisor, dan
administrator) di dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan
“model organisasi” dapat dikatakan bahwa tugas persekolahan itu adalah untuk
memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada anak didik, dan karena itulah
para guru diperkerjakan. Dalam hubungan ini supervisor berfungsi sebagai
membina para guru supaya dapat bertugas secara efektif dan tugas formal para
administrator sekolah adalah untuk mengkoordinasi dan memendukan berbagai ragam
aktivitas dalam lingkungan sistem persekolahan.
Para pemegang
posisi mempunyai hak dan kewajiban tertentu dalam hubungannya dengan para
pemegang posisi lain di dalam sistem interaksi mereka. Sejalan dengan bahasan
mengenai aspek struktur organisasi persekolahan tersebut, secara implisit,
sepertinya ada dua asumsi yang sebenarnya masih patut dipertanyakan. Pertama,
bahwa ada kesamaan pandangan atau pendapat mengenai tujuan organisasi
persekolahan. Kedua, bahwa ada dua kesamaan pandangan atau pendapat mengenai
hak dan kewajiban masing-masing di dalam tata hubungan antar posisi/fungsi.
Sehubungan dengan kedua asumsi tersebut, analisis sosiologis tidak begitu saja
meyakininya, bahkan menyarankan untuk ditelaah benar tidaknya. Sebab dalam
kenyataan, dapat saja begitu tipisnya kesepakatan para pemegang posisi mengenai
tujuan organisasi sekolah, dan juga mengenai batasan perannya masing-masing.
Padahal, faktor
tersebut merupakan elemen pokok untuk berfungsi dengan baik atau tidaknya
system organisasi persekolahan. Organisasi formal system persekolahan,
sebenarnya kabur tujuan dan cenderung membingungkan. Hal ini bertolak dari
suatu perbandingan dengan tipe-tipe organisasi formal lainnya, misalnya
perusahaan yang bergerak di bidang bisnis ekonomi. Pada perusahaan bisnis,
selaku organisasi formal, tujuannya sangat jelas dan tidak membingungkan, yaitu
memproduksi barang atau jasa guna mendapatkan keuntunagan. Serikat buruh
mungkin saja ‘bertengkar’ dengan pemilik perusahaan mengenai soal pembagian
keuntungan, tetapi tidak mengenai tujuan organisasi itu sendiri. Situasinya
agak berbeda apabila diperbandingkan dengan organisasi formal sitem
persekolahan. Kata-kata “untuk mendidik anak-anak” merupakan pernyataan kabur
yang kurang berarti kecuali kalau tujuan pendidikan tersebut lebih
dispesifikasikan.
Mengefesiensikan
tujuan pendidikan mengundan permasalahan nilai-nilai, seperti tentang tanggunj
jawab masing-masing antar sekolah dengan rumah tanggga, atau tentang makna dari
suatu”pendidikan yang baik” apakah antar sekolah itu harus menekankan upaya-nya
pada pengembangan intelektual, sosial, ataukah emosionl anak-anak? Apakah
sekoalh itu mempunyai kewajiban yang berbeda terhadap anak-anak yang normal dan
anak-anak yang berkelainan? Apakah latihan mengemudi, pendidikan jasmani,
pelajaran, ekonomi dan industri rumah tangga bias dilakukan atau tidak sebagai
fungsi sekolah? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang berhubungan
dengan tujuan organisasi persekolahan masing-masing pertanyaan berharga
dimaksud dapat menjadi sangat berbeda dan bahkan bertentangan didalam memandang
serta mensikapinya, baik dikalagan orang dalam maupun luar system persekolahan.
Asumsi kedua yang menyatakan adanya kesamaan pendapat mengenai batasan peranan
para pemegang posisi pendidikan, juga tampil sebagai sesuatu yang patut
diragukan. Memang buku-buku teks berbicara banyak dan tegas tentang peranan
guru dan administrator pendidikan, seolah-olah semuaorang menyetujuinya, dan
banyak praktisi pendidikan bersasumsi demikian pada kenyataan mereka yang
bekerja bersama-sama dalam dunia pendidikan, sering kai tidak memiliki
pandangan atau pendapat mengenai hak dan kewajiban terkait dengan posisinya
masing-masing, haruskah para guru
diharapkan menghadiri pertemuan-pertemua regular organisasi profesi mereka?
Apakah pekerjaan guru juga melakukan bimbingan koseling? Apakah kewajiban guru
guru terhadap anak-anaka cerdas atau anak dungu? Apakah tugas guru dalam
masalah-masalah kedisiplinan anak? Haruskah guru-guru diharapkan ikut serta
pada proram-program latihan dalam jabatan? Apakah para guru mempunyai hak untuk
mendapat pembelaan dari atasannya bila mendapat pengaduan atau protes dari
orang tua murid? Dalam hal-hal tadi, banyak lagi lainnya yang berhubungan
dengan peranan guru, mungkin sekali ada ketidaksamaan pendapat di antara para
guru dengan kepala sekolah, dan bahkan di antara kalangan para guru itu
sendiri.
Salah satu
hasil penelitian tentang masalah batasan peranan tersebut, menunjukkan bahwa
hampir 50% dari penilik kepala (superintendent) dan anggota badan pertimbangan
sekolah di Massachusetts memperlihatkan adanya perbedaan-perbedaan pendapat
yang mendasar mengenai pembagian tugas di antara mereka. Dalam soal penerimaan
guru baru, tujuh dari sepuluh penilik kepala menyatakan keinginannya sebagai berikut:Dalam
soal penerimaan guru baru, tujuh dari sepuluh penilik kepala menyatakan
keinginannya sebagai berikut: ketika guru baru mau diterima atau diangkat,
badan pertimbangan sekolah seharusnya tinggal mengikuti nominasi yang dibuat
oleh penilik kepala tapi apa katanya anggota badan pertimbangan sekolah?
Ternyata hanya satu di antara lima anggota badan pertimbangan sekolah yang
sependapat dengan keinginan umum para penilik tadi. “Bagaimana dengan masalah
penyeleksian buku-buku teks?” mendekati Sembilan dari sepuluh penilik kepala
berpendapat, bahwa badan pertimbangan sekolah tidak bisa tidak, haruslah
mengikuti apa yang direkomendasikan penilik kepala di dalam penyeleksian
buku-buku teks. Tapi kurang dari separuh anggotabadan pertimbangan sekolah yang
menyetujuinya. “Bagaimana tentang guru yang tertimpa kasus?” Hampir 90% peniik
kepala berpendapat bahwa guru harus
senantiasa membawa permasalahan itu terlebih dahulu ke penilik kepala, baru
kemudian ke pertimbangan sekolah. Sememntara anggota badan pertimbangan sekolah
hanya 56% yang berpendapat serupa. “Bagaimanakah prosedur seharusnya kalau
masyarakat ingin menggunakan fasilitas persekolahan?”. Ada enam dari sepuluh
penilik kepala berpendapat bahwa hal tersebut sepenuhnya wewenang penilik
kepala, sementara hampir separuh anggota badan pertimbangan sekolah
menganggapnya sebagai wewenang penuh badan pertimbangan sekolah.
Bagaimana
dengan persetujuan dengan kenaikan gaji didalam system kepegawaian
dipersekolahan? Lebih dua periga penilik kepala menyatakan bahwa merekalah yang
berwenang untuk merkomendasikan kenaikan gaji, sementara hanya sepraruh anggota
badan pertimbangan sekolah yang setuju dengan pendapat tadi. Dari
penemuan-penemuan tadi, berarti ketegangan-ketegangan didalam system
persekolahan, bias jadi bersumber dari adanya perselisihan pendapat diantara
para pemegang posisi kependidikan mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajibannya
masing-masing. Para peneliti tersebut juga memperkirakan adanya konflik peranan
inter (intra role conflic) yang berlangsung didalam dirinya berbagai posisi
atau jabatan kependidikan.
Konflik peranan
intern yang dimaksud, ialah konflik harapan dari pihak lainnya yang dihadapkan
pada para pemegang satu posisi tertentu. Para guru, dihadapkan dengan harapan
yang saling berbeda dan bertentangan dari kepala sekolahnya, penilik, petugas
konseling, administratur pendidikan, orang tua murid dan bahkan dari muridnya
sendiri. Para kepela sekolah dihadapkan dengan konflik harapan dari penilik
kepala dan juga para stafnya sendiri didalam penangan beberapa hal, misalnya
tentang supervisi pengajaran dikelas, penindakan kasus-kasus kedisiplinan, dan
sebagainya. Para administratur dikronprotansi dengan konflik harapan dari para
stafnya. misalnya, beberapa guru mengharapkan kepala sekolahnya supaya membawa
setiap masalah sekolah kedalam rapat dewan guru, sedangkan sebagian lainnya
tidak mengharapkan membuka semua permasalahan diforum rapat dewan guru. Sebagai
tambahan sering kali para orang tua dan guru mempunyai harapan yang kontradiksi
mengenai apa-apa yang mestinya dilakukan kepala sekolah, misalnya di dalam
penanganan masalah kedisiplinan siswa, besar uang sekolah, besar penerimaan
murid baru, pelulusan siswa, dan sebagainya. Dalam hubungan ini, penilik kepala
termasuk posisi yang kerap kali dihadapkan pada konflik peranan intern,sumber
utama dari lahirnya konflik harapan tersebut, kirannya terletak pada adanya
perbedaan pandangan dari badan pertimbangan sekolah dan para penilik yang
dibawahnya. Seperti halnya penilik, para kepala sekolah juga acapkali harus
menghadapi harapan-harapan yang kontradiksi, yaitu dari para guru, penilik,
orang tua murid, dan terlebih sulit lagi bila datangnya dari badan pertimbangan
sekolah.
Untuk diingat,
memandang sekolah sebagai suatu organisasi formal, dari kacamata sosiologis
mengisyaratkan adanya rintangan organisasi yang besar untuk bisa berfungsi
secara efektif. Sebagai terlihat dari bahasan tadi, telah ditandaskan adanya
dua faktor penyebab yaitu: kurangnya kata persetujuan mengenai tujuan
organisasi sekolah itu sendiri dan kurangnya kesepakatan tentang batasan
peranan dari masing-masing pemegang posisi kependidikan.
B.
Kegiatan
Kelas Sebagai Suatu Sistem Sosial.
Hakikat keberadaan kelompok sosial bukan tergantung dari dekatnya
jarak fisik, melainkan pada kesadaran untuk berinteraksi, sehingga kelas
bersifat permanen dan tidak hanya suatu agregasi atau kolektivitas semata.Pada
akhirnya, peran dan fungsi yang diembannya dalam struktur pendidikan lebih
terjamin.
1.
Struktur
Sosial Kelas.
Ruang kelas merupakan miniatur dari kelompok yang lebih besar,
yaitu masyarakat karena di sana berkumpul person-person dari latar belakang
status sosial dan ekonomi yang berbeda-beda, meskipun dengan struktur profesi
dan peran yang sama. Beberapa ciri khas struktur kelas yang memiliki kesamaan
dengan masyarakat adalah sebagai berikut:
a.
Komposisi
Anggota.
Heterogenitas adalah aspek umum yang hampir selalu ada di kelas
manapun. Di sana, selain latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, juga
terdapat perbedaan jenis kelamin (seksualitas) kecuali di sekolah khusus,
keberagaman agama, sampai pada karakteristik individu yang saling berlainan
secara fisik maupun psikis yang ditandai dengan perbedaan antarpersonalnya.
Keberagaman komposisi kelas merupakan warna yang biasa, seperti halnya dalam
masyarakat karena institusi pendidikan berlaku universal yang memberi kebebasan
bagi siapa saja yang memenuhi syarat untuk bergabung.
b.
Struktur
Birokratis Berupa Peran dan Status.
Di dalam kelas yang majemuk itu, terdapat suatu tata aturan kelas
yang diikat oleh sekolah dan diperankan oleh wakil-wakil siswa yang disebut
pengurus kelas. Lahirlah berbagai “jabatan” yang terbentuk secara hierarkis
sesuai dengan tugas dan kewenangan mereka di dalam kelas, baik itu oleh guru
yang berperan sebagai wali kelas maupun siswa-siswanya yang terakumulasi dalam
jabatan ketua kelas, sekretaris, bendahara, dan seterusnya.Pola imitatif yang
dibawa dari lingkup luar masyarakat ini tersusun karena diperlukannya sistem
penegakan tata aturan institusi serta pola pengendalian sosial yang ketat
mengingat fungsi dunia pendidikan yang sedemikian nyata sehingga memerlukan
tindakan konkret untuk pelestarian fungsi institusi dan segenap norma-norma
kelas dan sekolah tersebut.Salah satu bentuknya adalah penetapan status
birokratis dari unsur-unsur kelas yang merepresentasikan anggota-anggotanya
sebagai wujud dari masyarakat kecil.
2.
Pola
Komunikasi dalam Kelas
Model komunikasi mengandung beberapa implikasi yaitu, pertama,
struktur komunikasi kelas dimaksud paling tidak memuaskan seluruh anggota
kelompok, kecuali anggota yang paling sentral (dalam hal ini adalah guru).
Kedua, tipe kelompok ini dianggap paling produktif dalam menyelesaikan secara
tepat tugas-tugas yang jelas strukturnya, akan tetapi hal ini sebenarnya
merupakan hasil tindakan orang yang memegang peranan sentral. Pola komunikasi
kelompok ini sangat terpusat (highly centralized group) tampak sangat teratur
dan efisien dikarenakan tindakan anggotanya yang pasif. Dengan kata lain,
komunikasi yang terbentuk hanyalah komunikasi dengan pemimpinnya saja. Dalam
sistem ini, pemegang peranan sentral akan banyak bisa belajar dan merasa puas
dengan posisi dan kelompoknya akan tetapi efeknya, individu lain tidak banyak
memperoleh kesempatan untuk belajar.
3.
Iklim
Sosial di Kelas.
Pembentukan iklim sosial kelas sangat bergantung pada variasi
hubungan guru-murid serta alur penerimaan informasi dan komunikasi yang
kesemuanya dinaungi dalam sebuah koridor gaya kepemimpinan dariseorang guru,
baik yang mengikuti kepemimpinan terpusat (sentralistik), demokratis maupun
gaya kepemimpinan yang memberi kebebasan penuh (laissez faire) kepada para
muridnya. Dariperpaduan itulah terbentuk berbagai macam iklim sosial di
kelasyang merefleksikan bentuk hubungan vertikal kelas antara gurumurid dalam
kegiatan belajar di dalam kelas yang sangat mempengaruhi keberhasilan siswa
dalam kegiatan belajar ataupun bersosialisasi didalamnya. Menurut Faisal dan
Yasik (1985) terdapat enam iklim sosialyang timbul di kelas yaitu sebagai
berikut.
a.
Iklim
Terbuka
Dalam iklim terbuka ini, tingkah laku guru menggambarkan integrasi
antara kepribadian seorang guru sebagai individu dan peranannya sebagai
pimpinan di dalam kelas. Dia selain memberikan kritik, juga mau menerima
kritikan dari para siswa. Hubungan guru dengan siswa bersifat fleksibel
sehingga suasana ini dapat mempertinggi kreativitas siswa karena mereka dapat
bekerja sama dan berkreasi tanpa adanya beban mental. Kebijaksanaan yang
diambil seorang guru biasanya memberikan kemudahan bagi setiap siswa untuk
melaksanakan tugasnya dengan baik.Efeknya, setiap murid biasanya dapat
memperoleh kepuasan dalam melaksanakan tugas hubungan ini serta dapat
memperlancar jalannya organisasi di kelas maupun organisasi di sekolah yang
lebih luas.
b.
Iklim
Mandiri
Dalam bentuk ini, masing-masing mendasarkan pada kemampuan dan
tanggung jawab yang mereka miliki. Para siswa mendapatkan kebebasan dari guru
untuk mendapatkan kebebasan kebutuhan belajar dan kebutuhan sosial
mereka.Mereka tidak terlalu dibebani dengan tugas-tugas yang berat dan
menyulitkan mereka.Untuk memperlancar tugas siswa, seorang guru membuat prosedur
dan peraturan yang jelas, yang dikomunikasikan di dalam kelas. Yang lebih
esensial dalam iklim mandiri ini, antara guru dan siswa bekerja sama dengan
baik, penuh tenggang rasa, dan penuh kesungguhan hati. Kepercayaan dan tanggung
jawab masing-masing membuat guru memberikan kelongggaran-kelonggaran sehingga
kontrol yang ketat tidak diperlukan karena para murid dipercaya memiliki moral
yang cukup tinggi.
c.
Iklim
Terkontrol
Dalam iklim terkontrol ini, titik sentral kebijakan seorang guru
adalah menekankan pada pencapaian prestasi siswa di kelas, tetapi di sisi lain
justru mengorbankan kepuasan kebutuhan sosial siswa. Oleh karena tuntutan ini,
para guru menjalankan komando mengajar secara kaku dan keras serta siswa
diharuskan menjalankan kegiatan belajar dengan keras.Mereka akhirnya sibuk
dengan kesibukannya sendiri-sendiri sehingga tidak bisa mendapat kesempatan
untuk membentuk hubungan kerja yang lebih akrab dan sosialitas tinggi.Hubungan
pribadi sesama siswa jarang dilaksanakan karena mereka sibuk dengan pekerjaan
atau tugas mereka sendiri-sendiri yang dituntut prestasi dan keberhasilan
nyata.Fungsi pimpinan sangat dominan karena tidak adanya fleksibilitas dalam
organisasi kelas tersebut.Setiap pembelajaran yang telah terjadwal dijalankan
secara ketat dan full dan untuk menjaga keberlangsungan belajarnya guru
menerangkan aturan yang keras dan disertai sanksi fisik atau nonfisik yang
berlaku mulai saat itu juga.
d.
Iklim
Persaudaraan
Pada jenis ini, hubungan yang terjadi antara guru dan siswa sangat
erat, baik dalam kegiatan belajar maupun kegiatan di luar itu. Kepuasan
terhadap pemenuhan kebutuhan sosial sangat menonjol, tetapi umumnya guru kurang
mempunyai kegiatan yang berorientasi pada fase oriented.Para siswa tidak
dibebani dengan tugas-tugas yang menyulitkan, sebab guru berusaha agar para
siswa dapat bekerja semudah mungkin dan merasa bahagia.Kelas merupakan satu
ikatan keluarga sehingga di antara mereka banyak terjalin komunikasi dan saling
menasihati.Pendekatan guru terhadap anak didiknya sangat personal walaupun
masih memerankan diri mereka sebagai pimpinan.Dalam kelas seperti ini tidak
banyak aturan yang digunakan sebagai pedoman sehingga akibatnya tugas belajar
kurang diperhatikan.Pengaruh lainnya, prestasi belajar kurang optimal karena tidak pernah mendapatkan kritik.
kurang diperhatikan.Pengaruh lainnya, prestasi belajar kurang optimal karena tidak pernah mendapatkan kritik.
e.
Iklim
Tertutup
Dalam model ini, seorang guru tidak memberikan kepemimpinan yang
memadai kepada para siswa. Ia mengharapkan agar setiap siswa mengembangkan
inisiatif masing-masing. Namun ia tidak memberi kebebasan kepada para siswa
untuk merealisasikan inisiatif tersebut secara nyata karena tidak adanya
keterbukaan dan komunikasi yang efektif. Antara siswa yang satu dengan yang
lain kurang dapat bekerja sama dengan baik. Akibatnya, prestasi yang dicapai
pun rendah karena seringkali timbul perbedaan persepsi dan pandangan tentang
prestasi yang harus ditargetkan.Para guru menerapkan aturan-aturan yang
semuanya bersifat sepihak dan kurang memperhatikan kepentingan siswa.
C.
Lingkungan
Eksternal Persekolahan.
Suatu sistem
persekolahan tidak berada dalam suatu dunia hampa (dunia vakum). Namun,
sebagiannya itu bergantung pada lingkungan eksternalnya. Sudut pandang
sosiologis yang demikian itu, mempunyai banyak implikasi terhadap penganalisaan
sistem persekolahan.
Aspek pertama
dari implikasinya ialah, dengan adanya perubahan-perubbahan demografis di dalam
sistem social yang lebih benar (masyarakat), secara materil akan mempengaruhi
komposisi kesiswaan pada suatu sistem persekolahan, dan karenanya, mungkin
sekali menuntut adanya modifikasi-modifikasi kurikulum.
Aspek kedua ini
ialah, bahwa kebanyakan aspek-aspek dalam penunaian fungsi persekolahan
dipengaruhi oleh fenomena kelas sosial. Pelaksanaan penilaian beserta criteria
yang digunakan di dalam evaluasi hasil belajar siswa, tampaknya ada hubungan dengan
posisi kelas sosial si siswa dan si guru itu sendiri.
Aspek ketiga
ini mempunyai implikasi penting terhadap persekolahan ialah struktur kekuasaan
di masyarakat. Bahwasannya pengelolaan program pendidikan di sekolah-sekolah
membutuhkan topangan dana yang tidak sedikit, dan hal tersebut, sedikit banyak
ikut mempengaruhi mutu program dan hasil pendidikan.
Aspek keempat
ini ialah, penganalisaan mengenai rantai penghubung antara sekolah dengan
mesyarakat. Penelitian sosiologis telah menunjukkan pengaruh dari tingkah-laku
para anggota Badan Pertimbangan Sekolah dan motivasinya untuk menduduki jabatan
tersebut terhadap penampilan dan keputusan kerja para Penilik Kepala.
Aspek kelima
ini ialah, bentrok dari telaahan terhadap kolflik antara peranan dimana para tenaga
kependidikan dihadapkan pada benturan kepentingan dari posisi yang dipegangnya
dalam sistem persekolahan dengan posisinya di dalam sistem sosial lain. Banyak
harapan-harapan yang terkait dengan posisi guru, dalam kenyataannya berbenturan
(konflik) dengan harapan-harapan posisi lain yang dipegangnya di luar sistem
persekolahan.
Beberapa penemuan yang tak dipublikasi, hasil telaahan terhadap
unsur penyelenggaraan persekolahan, memperlihatkan berbagai jenis konflik antar
peranan yang dihadapi para Penilik Kepala. Sebanyak 20% Penilik Kepala
melaporkan bahwa mereka menghadapi ketidak sejalanan harapan (incopertible
expectitation) dari posisi yang dipegangnya secara simultan di lembaga
pendidikan dan di lembaga keagamaan.
Jelas bahwa konflik antar peranan di antara posisi di sistem
persekolahan dengan di lingkungan eksternal, merupakan sumber potensial utama
lahirnya ketegangan di kalangan praktisi pendidikan, termasuk juga bagi para
guru. Sehingga, tujuan dan analisis sosiologis, para praktisi pendidikan bisa
secara lebih realistis dan peka mengkaji kekuatan-kekuatan majemuk yang ada dan
berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pendidikan. Dengan sokongan
penglihatan dan kosep-konsep sosiologis para praktisi pendidikan bisa lebih
jeli memperhitungkan factor-faktor organisasi, budaya, dan personal di
lingkungan kerjanya masing-masing.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari pemaparan materi tersebut, yakni
sebagai berikut:
1.
Suatu
sistem persekolahan mempunyai suatu tujuan organisasi yang menjadi arah dan
mengarahkan system sosial bersangkutan, serta dalam organisasi persekolahan
terdapat suatu arus jaringan kerja dari sejumlah posisi yang saling kait
mengait di dalam rangka mencapai tujuan
organisasi.
2.
Di
tinjau dari fakta yang ada, bahwa tugas pokok persekolahan (transaksi
pendidikan) terutama berlangsung dalam sistem sosial yang relatif kecil, yakni
di ruangan kelas itu sendiri. Sehingga, struktur kompetisi beserta pengaruhnya
terhadap prestasi belajar, secara nyata mempunyai implikasi untuk
mengisolasikan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi “hasil belajar” sesuatu
kelas.
3.
Adapun
suatu sistem persekolahan bergantung pada lingkungan eksternalnya.
Faktor-faktor eksternal dimaksud terhadap penunaian fungsi sekolah, termasuk
masalah penting untuk dikaji. Sehingga, dengan tujuan dan analisis sosiologis,
para praktisi pendidikan bisa secara lebih realistis dan peka mengkaji
kekuatan-kekuatan majemuk yang ada dan berlangsung dalam konteks
penyelenggaraan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta.
PT Rieneka Cipta.
Ahmadi, Abu dan Nuruhbiyati. 2001. Ilmu
Pendidkan. Jakarta. PT Rieneka Cipta.
Daradjat,
Zakiah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta. Bumi Aksara.
Pertanyaan :
1.
Yang memegang perana sentral dalam kelas adalah ?
Yang memegang peranan sentralnya yaitu guru, karena keberhasilan
belajar mengajar antara lain di tentukan oleh kemampuan profesional dan pribadi
guru dalam mengontol situasi dalam kelas agar kondusif. Sebagai pemegang
peranan sentral guru juga dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku mengajar
secara tepat agar terjadi perilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa.
Dalam proses belajar mengajar, guru bisa sebagai motivator belajar .
2.
Jelaskan kembali iklim-iklim yang timbul di dalam kelas !
Ø
Iklim terbuka
Tingkah
laku guru yang menggambarkan integrasi antara kepribadian seorang guru sebagai
individu dan peranannya sebagai pemimpin di dalam kelas. Yakni sikap terbuka
yang dimiliki seorang guru selain memberikan kritik, juga mau menerima kritikan
dari para siswa.
Ø
Iklim Mandiri
Dalam
iklim mandiri, masing-masing bendasarkan pada kemampuan dan tanggung jawab yang
mereka miliki. Yakni para siswa mendapatkan kebebasan dalam memperoleh
kebutuhan belajar dan sosial.
Ø
Iklim Terkontrol
Dalam
iklim ini titik sentral kebijakan seorang guru adalah menekankan pada
pencapaian prestasi siswa dikelas, tetapi disisi lin justru mengorbankan
kepuasan kebutuhan sosial siswa.
Ø
Iklim Persaudaraan
Dalam
iklim ini hubungan yang terjadi antara guru dan siswa sangat erat, baik dalam
kegiatan belajar aupun kegiatan diluar pembelajaran.
Ø
Iklim Tertutup
Seorang
guru tidak memberikan kepemimpinan yang memadai kepada para siswa. Ia mengharapkan
agar para siswa mengembangkan inisiatif masing-masing.
3.
Berikan contoh iklim persaudaraan !
Antara guru dan siswanya tidak adanya jarak sehingga
bisa terjalin kominikasi yang baik. Seorang guru harus bisa memposisikan
dirinya bukan hanya sebagai pengajar dan murid tetapi juga sebagai teman mereka
agar para siswa tidak merasa tertekan dan tidak canggung untuk menanyakan hal
yang tidak timengerti oleh siswa.
4. Jika ada seorang guru yang dikatakan galak,
mengakibatkan siswa merasa takut lalu apa yang dilakukan oleh siswa tersebut ?
Siswa tersebut tidak boleh langsung mengecap guru
itu galak, karena mungkin guru tersebut mempunyai maksud tertentu agar siswanya
menjadi disiplin dalam proses pembelajaran. Seorang guru itu mempunyai caranya
masing-masing dalam mengajar anak didiknya. Disamping sifatnya yang bisa
dikatakan galak tentu mempinyai sisi baiknya. Jadi siwa tersebut harus memahami
karakter seorang guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar