Jumat, 06 November 2015

Makalah Kontribusi Sosiologi Dalam Pendidikan

MAKALAH
KONTRIBUSI SOSIOLOGI DALAM PENDIDIKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah : Sosiologi Pendidikan
Dosen Pengampu : Drs. Asep Mulyana M.Si.

                                                         
 








               Disusun oleh :
             Kelompok 2
         1.         Aenul Fahmi
         2.         Hanifah Eka S
         3.         Tri Asih
         4.         Windi Arofah

TARBIYAH IPA-BIOLOGI-C/III
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2013/2014



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Kontribusi sosiologi pada dunia pendidikan menyajikan semacam ancar-ancar bagi praktisi pendidikan, yaitu mengenai beberapa kontribusi spesifik dari analis sosiologi terhadap bidang pendidikan. Fokos bahasan ini memeang pada suatu perangkat subtantif kontribusi sosiologis yang dari padanya para praktisis seperti guru, penilik, kepela sekolah  atau pengawas dapat mengambil menfaatnya secara realistis dan efektif didalam lingkungan pekerjaan masing-masing.
Untuk mengambarkan kontribusi sosiologis terhadap bidang pendidikan ternyata ada banyak pendekatan yang mungkin lazim dipergunakan. Macam-macam pendekatan yang dimaksud digunakan juga sesuai dengan arahan bahasa ini. Kontribusi-kontribusi spesifik dari sosiologi didalam pendidikan tertuang dalam tigapokok bahasan  judul ketigannya bertolak dari sorotan sosiologis dalam menelaah persekolahan sebagai system social fungsional. Pada pokok bahasan  pertama melihat hubungan-hubungan dalam dunia pendidikan sebagai suatu yang berlangsung dalam konteks suatu organisasi formal. Pada pokok bahasan kedua tinjauan dari fakta tugas pokok persekolahan (transaksi pendidikan) terutama berlangsung pada system sosial yang relatif kecil, yaitu dimana ruang kelas. Sedangkan pokok bahasan ketiga, tinjauannya bertolak dari realitas dimana system persekolahan tidak pernah terlepas dari lingkungan luarnya. Seperti pada semua organisasi, ia dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan eksternalnya. Ketiga tinjauan tersebut diajukan sebagai ancar-ancar untuk menunjukan beberapa kontribusi sosiologi bagi para praktisi didunia pendidikan. 

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, terdapat beberapa rumusan masalah yang dipaparkan antara lain:
1.         Mengapa sistem persekolahan sebagai suatu organisasi formal?
2.         Bagaimanakah kegiatan kelas sebagai suatu sistem sosial?
3.         Apa saja yang menyangkut tentang lingkungan eksternal persekolahan?
C.      Tujuan
1.         Untuk mengetahui sistem persekolahan sebagai suatu organisasi formal.
2.         Untuk mengetahui kegiatan kelas sebagai suatu sistem sosial.
3.         Untuk mengetahui lingkungan eksternal persekolahan.



BAB II
ISI

Seiring dengan bergulirnya roda sejarah kehidupan, maka prestasi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh manusia menjdai semakin kompleks, sehingga pada fase inilah konsep pengetahuan dan kemampuan-kemampuan gemilangnya telah menjadi penentu arah kehidupan dimasa yang akan datang. Beberapa faktor inilah terbentuknya lembaga-lembaga tertentu untuk mengelola alokasi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan didalam kehidupan diantaranya:
1.        Pertumbuhan jumlah populasi manusia manusia yang mempengaruhi tingkat penguasaan dan ketersediaan sumber daya alam.
2.        Kompleksnya pranata kebudayaan dan mekanisme pengetahuan beserta teknologi terapan, dan
3.        Implikasi tingkat akal budi dan mentalitas manusia yang kian rasional.
Secara singkat, terbentuknya lembaga pendidikan merupakan konsekuensi logis dari taraf perkembangan masyarakat yang lebih kompkeks. Sehingga untuk mengorganisasikan perangkat-perangkat pengetahuan dan keterampilan tidak memungkinkan ditangani secara langsung oleh masing-masing keluarga. Perlunya pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan apresiasi pengetahuan serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepada para generasi muda agar terjamin kelestariannya merupakan cetak biru kekuatan yang melatar belakangi berdirinya lembaga pendidikan. Disinilah kontribusi sosiologi dalam pendidikan diperlukan yaitu diantaranya:
A.      Sistem Persekolahan Sebagai Suatu Organisasi Formal.
Sekolah sebagai suatu sistem. menurut sudut tinjauan sosiologi, juga memiliki banyak karakteristik umum sebagaimana pada jenis-jenis organisasi lainnya yang berskala luas. Dua diantara karakteristik tersebut, kiranya relevan dengan maksud bahasan ini. Pertama, sistem persekolahan, sebagaimana organisasi-organisasi bisnis dan rumah sakit, jelas mempunyai suatu tujuan organisasi. Tujuan itulah yang menjadi arah dan mengarahkan sistem sosial bersangkutan. Kedua, dalam organisasi persekolahan terdapat suatu arus jaringan kerja dari sejumlah posisi yang saling terkait (seperti guru, supervisor, dan administrator) di dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan “model organisasi” dapat dikatakan bahwa tugas persekolahan itu adalah untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada anak didik, dan karena itulah para guru diperkerjakan. Dalam hubungan ini supervisor berfungsi sebagai membina para guru supaya dapat bertugas secara efektif dan tugas formal para administrator sekolah adalah untuk mengkoordinasi dan memendukan berbagai ragam aktivitas dalam lingkungan sistem persekolahan.
Para pemegang posisi mempunyai hak dan kewajiban tertentu dalam hubungannya dengan para pemegang posisi lain di dalam sistem interaksi mereka. Sejalan dengan bahasan mengenai aspek struktur organisasi persekolahan tersebut, secara implisit, sepertinya ada dua asumsi yang sebenarnya masih patut dipertanyakan. Pertama, bahwa ada kesamaan pandangan atau pendapat mengenai tujuan organisasi persekolahan. Kedua, bahwa ada dua kesamaan pandangan atau pendapat mengenai hak dan kewajiban masing-masing di dalam tata hubungan antar posisi/fungsi. Sehubungan dengan kedua asumsi tersebut, analisis sosiologis tidak begitu saja meyakininya, bahkan menyarankan untuk ditelaah benar tidaknya. Sebab dalam kenyataan, dapat saja begitu tipisnya kesepakatan para pemegang posisi mengenai tujuan organisasi sekolah, dan juga mengenai batasan perannya masing-masing.
Padahal, faktor tersebut merupakan elemen pokok untuk berfungsi dengan baik atau tidaknya system organisasi persekolahan. Organisasi formal system persekolahan, sebenarnya kabur tujuan dan cenderung membingungkan. Hal ini bertolak dari suatu perbandingan dengan tipe-tipe organisasi formal lainnya, misalnya perusahaan yang bergerak di bidang bisnis ekonomi. Pada perusahaan bisnis, selaku organisasi formal, tujuannya sangat jelas dan tidak membingungkan, yaitu memproduksi barang atau jasa guna mendapatkan keuntunagan. Serikat buruh mungkin saja ‘bertengkar’ dengan pemilik perusahaan mengenai soal pembagian keuntungan, tetapi tidak mengenai tujuan organisasi itu sendiri. Situasinya agak berbeda apabila diperbandingkan dengan organisasi formal sitem persekolahan. Kata-kata “untuk mendidik anak-anak” merupakan pernyataan kabur yang kurang berarti kecuali kalau tujuan pendidikan tersebut lebih dispesifikasikan.
Mengefesiensikan tujuan pendidikan mengundan permasalahan nilai-nilai, seperti tentang tanggunj jawab masing-masing antar sekolah dengan rumah tanggga, atau tentang makna dari suatu”pendidikan yang baik” apakah antar sekolah itu harus menekankan upaya-nya pada pengembangan intelektual, sosial, ataukah emosionl anak-anak? Apakah sekoalh itu mempunyai kewajiban yang berbeda terhadap anak-anak yang normal dan anak-anak yang berkelainan? Apakah latihan mengemudi, pendidikan jasmani, pelajaran, ekonomi dan industri rumah tangga bias dilakukan atau tidak sebagai fungsi sekolah? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya yang berhubungan dengan tujuan organisasi persekolahan masing-masing pertanyaan berharga dimaksud dapat menjadi sangat berbeda dan bahkan bertentangan didalam memandang serta mensikapinya, baik dikalagan orang dalam maupun luar system persekolahan. Asumsi kedua yang menyatakan adanya kesamaan pendapat mengenai batasan peranan para pemegang posisi pendidikan, juga tampil sebagai sesuatu yang patut diragukan. Memang buku-buku teks berbicara banyak dan tegas tentang peranan guru dan administrator pendidikan, seolah-olah semuaorang menyetujuinya, dan banyak praktisi pendidikan bersasumsi demikian pada kenyataan mereka yang bekerja bersama-sama dalam dunia pendidikan, sering kai tidak memiliki pandangan atau pendapat mengenai hak dan kewajiban terkait dengan posisinya masing-masing, haruskah  para guru diharapkan menghadiri pertemuan-pertemua regular organisasi profesi mereka? Apakah pekerjaan guru juga melakukan bimbingan koseling? Apakah kewajiban guru guru terhadap anak-anaka cerdas atau anak dungu? Apakah tugas guru dalam masalah-masalah kedisiplinan anak? Haruskah guru-guru diharapkan ikut serta pada proram-program latihan dalam jabatan? Apakah para guru mempunyai hak untuk mendapat pembelaan dari atasannya bila mendapat pengaduan atau protes dari orang tua murid? Dalam hal-hal tadi, banyak lagi lainnya yang berhubungan dengan peranan guru, mungkin sekali ada ketidaksamaan pendapat di antara para guru dengan kepala sekolah, dan bahkan di antara kalangan para guru itu sendiri.
Salah satu hasil penelitian tentang masalah batasan peranan tersebut, menunjukkan bahwa hampir 50% dari penilik kepala (superintendent) dan anggota badan pertimbangan sekolah di Massachusetts memperlihatkan adanya perbedaan-perbedaan pendapat yang mendasar mengenai pembagian tugas di antara mereka. Dalam soal penerimaan guru baru, tujuh dari sepuluh penilik kepala menyatakan keinginannya sebagai berikut:Dalam soal penerimaan guru baru, tujuh dari sepuluh penilik kepala menyatakan keinginannya sebagai berikut: ketika guru baru mau diterima atau diangkat, badan pertimbangan sekolah seharusnya tinggal mengikuti nominasi yang dibuat oleh penilik kepala tapi apa katanya anggota badan pertimbangan sekolah? Ternyata hanya satu di antara lima anggota badan pertimbangan sekolah yang sependapat dengan keinginan umum para penilik tadi. “Bagaimana dengan masalah penyeleksian buku-buku teks?” mendekati Sembilan dari sepuluh penilik kepala berpendapat, bahwa badan pertimbangan sekolah tidak bisa tidak, haruslah mengikuti apa yang direkomendasikan penilik kepala di dalam penyeleksian buku-buku teks. Tapi kurang dari separuh anggotabadan pertimbangan sekolah yang menyetujuinya. “Bagaimana tentang guru yang tertimpa kasus?” Hampir 90% peniik kepala berpendapat bahwa guru  harus senantiasa membawa permasalahan itu terlebih dahulu ke penilik kepala, baru kemudian ke pertimbangan sekolah. Sememntara anggota badan pertimbangan sekolah hanya 56% yang berpendapat serupa. “Bagaimanakah prosedur seharusnya kalau masyarakat ingin menggunakan fasilitas persekolahan?”. Ada enam dari sepuluh penilik kepala berpendapat bahwa hal tersebut sepenuhnya wewenang penilik kepala, sementara hampir separuh anggota badan pertimbangan sekolah menganggapnya sebagai wewenang penuh badan pertimbangan sekolah.
Bagaimana dengan persetujuan dengan kenaikan gaji didalam system kepegawaian dipersekolahan? Lebih dua periga penilik kepala menyatakan bahwa merekalah yang berwenang untuk merkomendasikan kenaikan gaji, sementara hanya sepraruh anggota badan pertimbangan sekolah yang setuju dengan pendapat tadi. Dari penemuan-penemuan tadi, berarti ketegangan-ketegangan didalam system persekolahan, bias jadi bersumber dari adanya perselisihan pendapat diantara para pemegang posisi kependidikan mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajibannya masing-masing. Para peneliti tersebut juga memperkirakan adanya konflik peranan inter (intra role conflic) yang berlangsung didalam dirinya berbagai posisi atau jabatan kependidikan.
Konflik peranan intern yang dimaksud, ialah konflik harapan dari pihak lainnya yang dihadapkan pada para pemegang satu posisi tertentu. Para guru, dihadapkan dengan harapan yang saling berbeda dan bertentangan dari kepala sekolahnya, penilik, petugas konseling, administratur pendidikan, orang tua murid dan bahkan dari muridnya sendiri. Para kepela sekolah dihadapkan dengan konflik harapan dari penilik kepala dan juga para stafnya sendiri didalam penangan beberapa hal, misalnya tentang supervisi pengajaran dikelas, penindakan kasus-kasus kedisiplinan, dan sebagainya. Para administratur dikronprotansi dengan konflik harapan dari para stafnya. misalnya, beberapa guru mengharapkan kepala sekolahnya supaya membawa setiap masalah sekolah kedalam rapat dewan guru, sedangkan sebagian lainnya tidak mengharapkan membuka semua permasalahan diforum rapat dewan guru. Sebagai tambahan sering kali para orang tua dan guru mempunyai harapan yang kontradiksi mengenai apa-apa yang mestinya dilakukan kepala sekolah, misalnya di dalam penanganan masalah kedisiplinan siswa, besar uang sekolah, besar penerimaan murid baru, pelulusan siswa, dan sebagainya. Dalam hubungan ini, penilik kepala termasuk posisi yang kerap kali dihadapkan pada konflik peranan intern,sumber utama dari lahirnya konflik harapan tersebut, kirannya terletak pada adanya perbedaan pandangan dari badan pertimbangan sekolah dan para penilik yang dibawahnya. Seperti halnya penilik, para kepala sekolah juga acapkali harus menghadapi harapan-harapan yang kontradiksi, yaitu dari para guru, penilik, orang tua murid, dan terlebih sulit lagi bila datangnya dari badan pertimbangan sekolah.
Untuk diingat, memandang sekolah sebagai suatu organisasi formal, dari kacamata sosiologis mengisyaratkan adanya rintangan organisasi yang besar untuk bisa berfungsi secara efektif. Sebagai terlihat dari bahasan tadi, telah ditandaskan adanya dua faktor penyebab yaitu: kurangnya kata persetujuan mengenai tujuan organisasi sekolah itu sendiri dan kurangnya kesepakatan tentang batasan peranan dari masing-masing pemegang posisi kependidikan.
B.       Kegiatan Kelas Sebagai Suatu Sistem Sosial.
Hakikat keberadaan kelompok sosial bukan tergantung dari dekatnya jarak fisik, melainkan pada kesadaran untuk berinteraksi, sehingga kelas bersifat permanen dan tidak hanya suatu agregasi atau kolektivitas semata.Pada akhirnya, peran dan fungsi yang diembannya dalam struktur pendidikan lebih terjamin.
1.         Struktur Sosial Kelas.
Ruang kelas merupakan miniatur dari kelompok yang lebih besar, yaitu masyarakat karena di sana berkumpul person-person dari latar belakang status sosial dan ekonomi yang berbeda-beda, meskipun dengan struktur profesi dan peran yang sama. Beberapa ciri khas struktur kelas yang memiliki kesamaan dengan masyarakat adalah sebagai berikut:
a.    Komposisi Anggota.
Heterogenitas adalah aspek umum yang hampir selalu ada di kelas manapun. Di sana, selain latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, juga terdapat perbedaan jenis kelamin (seksualitas) kecuali di sekolah khusus, keberagaman agama, sampai pada karakteristik individu yang saling berlainan secara fisik maupun psikis yang ditandai dengan perbedaan antarpersonalnya. Keberagaman komposisi kelas merupakan warna yang biasa, seperti halnya dalam masyarakat karena institusi pendidikan berlaku universal yang memberi kebebasan bagi siapa saja yang memenuhi syarat untuk bergabung.
b.    Struktur Birokratis Berupa Peran dan Status.
Di dalam kelas yang majemuk itu, terdapat suatu tata aturan kelas yang diikat oleh sekolah dan diperankan oleh wakil-wakil siswa yang disebut pengurus kelas. Lahirlah berbagai “jabatan” yang terbentuk secara hierarkis sesuai dengan tugas dan kewenangan mereka di dalam kelas, baik itu oleh guru yang berperan sebagai wali kelas maupun siswa-siswanya yang terakumulasi dalam jabatan ketua kelas, sekretaris, bendahara, dan seterusnya.Pola imitatif yang dibawa dari lingkup luar masyarakat ini tersusun karena diperlukannya sistem penegakan tata aturan institusi serta pola pengendalian sosial yang ketat mengingat fungsi dunia pendidikan yang sedemikian nyata sehingga memerlukan tindakan konkret untuk pelestarian fungsi institusi dan segenap norma-norma kelas dan sekolah tersebut.Salah satu bentuknya adalah penetapan status birokratis dari unsur-unsur kelas yang merepresentasikan anggota-anggotanya sebagai wujud dari masyarakat kecil.
2.         Pola Komunikasi dalam Kelas
Model komunikasi mengandung beberapa implikasi yaitu, pertama, struktur komunikasi kelas dimaksud paling tidak memuaskan seluruh anggota kelompok, kecuali anggota yang paling sentral (dalam hal ini adalah guru). Kedua, tipe kelompok ini dianggap paling produktif dalam menyelesaikan secara tepat tugas-tugas yang jelas strukturnya, akan tetapi hal ini sebenarnya merupakan hasil tindakan orang yang memegang peranan sentral. Pola komunikasi kelompok ini sangat terpusat (highly centralized group) tampak sangat teratur dan efisien dikarenakan tindakan anggotanya yang pasif. Dengan kata lain, komunikasi yang terbentuk hanyalah komunikasi dengan pemimpinnya saja. Dalam sistem ini, pemegang peranan sentral akan banyak bisa belajar dan merasa puas dengan posisi dan kelompoknya akan tetapi efeknya, individu lain tidak banyak memperoleh kesempatan untuk belajar.
3.         Iklim Sosial di Kelas.
Pembentukan iklim sosial kelas sangat bergantung pada variasi hubungan guru-murid serta alur penerimaan informasi dan komunikasi yang kesemuanya dinaungi dalam sebuah koridor gaya kepemimpinan dariseorang guru, baik yang mengikuti kepemimpinan terpusat (sentralistik), demokratis maupun gaya kepemimpinan yang memberi kebebasan penuh (laissez faire) kepada para muridnya. Dariperpaduan itulah terbentuk berbagai macam iklim sosial di kelasyang merefleksikan bentuk hubungan vertikal kelas antara gurumurid dalam kegiatan belajar di dalam kelas yang sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar ataupun bersosialisasi didalamnya. Menurut Faisal dan Yasik (1985) terdapat enam iklim sosialyang timbul di kelas yaitu sebagai berikut.
a.    Iklim Terbuka
Dalam iklim terbuka ini, tingkah laku guru menggambarkan integrasi antara kepribadian seorang guru sebagai individu dan peranannya sebagai pimpinan di dalam kelas. Dia selain memberikan kritik, juga mau menerima kritikan dari para siswa. Hubungan guru dengan siswa bersifat fleksibel sehingga suasana ini dapat mempertinggi kreativitas siswa karena mereka dapat bekerja sama dan berkreasi tanpa adanya beban mental. Kebijaksanaan yang diambil seorang guru biasanya memberikan kemudahan bagi setiap siswa untuk melaksanakan tugasnya dengan baik.Efeknya, setiap murid biasanya dapat memperoleh kepuasan dalam melaksanakan tugas hubungan ini serta dapat memperlancar jalannya organisasi di kelas maupun organisasi di sekolah yang lebih luas.
b.    Iklim Mandiri
Dalam bentuk ini, masing-masing mendasarkan pada kemampuan dan tanggung jawab yang mereka miliki. Para siswa mendapatkan kebebasan dari guru untuk mendapatkan kebebasan kebutuhan belajar dan kebutuhan sosial mereka.Mereka tidak terlalu dibebani dengan tugas-tugas yang berat dan menyulitkan mereka.Untuk memperlancar tugas siswa, seorang guru membuat prosedur dan peraturan yang jelas, yang dikomunikasikan di dalam kelas. Yang lebih esensial dalam iklim mandiri ini, antara guru dan siswa bekerja sama dengan baik, penuh tenggang rasa, dan penuh kesungguhan hati. Kepercayaan dan tanggung jawab masing-masing membuat guru memberikan kelongggaran-kelonggaran sehingga kontrol yang ketat tidak diperlukan karena para murid dipercaya memiliki moral yang cukup tinggi.
c.    Iklim Terkontrol
Dalam iklim terkontrol ini, titik sentral kebijakan seorang guru adalah menekankan pada pencapaian prestasi siswa di kelas, tetapi di sisi lain justru mengorbankan kepuasan kebutuhan sosial siswa. Oleh karena tuntutan ini, para guru menjalankan komando mengajar secara kaku dan keras serta siswa diharuskan menjalankan kegiatan belajar dengan keras.Mereka akhirnya sibuk dengan kesibukannya sendiri-sendiri sehingga tidak bisa mendapat kesempatan untuk membentuk hubungan kerja yang lebih akrab dan sosialitas tinggi.Hubungan pribadi sesama siswa jarang dilaksanakan karena mereka sibuk dengan pekerjaan atau tugas mereka sendiri-sendiri yang dituntut prestasi dan keberhasilan nyata.Fungsi pimpinan sangat dominan karena tidak adanya fleksibilitas dalam organisasi kelas tersebut.Setiap pembelajaran yang telah terjadwal dijalankan secara ketat dan full dan untuk menjaga keberlangsungan belajarnya guru menerangkan aturan yang keras dan disertai sanksi fisik atau nonfisik yang berlaku mulai saat itu juga.
d.   Iklim Persaudaraan
Pada jenis ini, hubungan yang terjadi antara guru dan siswa sangat erat, baik dalam kegiatan belajar maupun kegiatan di luar itu. Kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan sosial sangat menonjol, tetapi umumnya guru kurang mempunyai kegiatan yang berorientasi pada fase oriented.Para siswa tidak dibebani dengan tugas-tugas yang menyulitkan, sebab guru berusaha agar para siswa dapat bekerja semudah mungkin dan merasa bahagia.Kelas merupakan satu ikatan keluarga sehingga di antara mereka banyak terjalin komunikasi dan saling menasihati.Pendekatan guru terhadap anak didiknya sangat personal walaupun masih memerankan diri mereka sebagai pimpinan.Dalam kelas seperti ini tidak banyak aturan yang digunakan sebagai pedoman sehingga akibatnya tugas belajar
kurang diperhatikan.Pengaruh lainnya, prestasi belajar kurang optimal karena tidak pernah mendapatkan kritik.
e.    Iklim Tertutup
Dalam model ini, seorang guru tidak memberikan kepemimpinan yang memadai kepada para siswa. Ia mengharapkan agar setiap siswa mengembangkan inisiatif masing-masing. Namun ia tidak memberi kebebasan kepada para siswa untuk merealisasikan inisiatif tersebut secara nyata karena tidak adanya keterbukaan dan komunikasi yang efektif. Antara siswa yang satu dengan yang lain kurang dapat bekerja sama dengan baik. Akibatnya, prestasi yang dicapai pun rendah karena seringkali timbul perbedaan persepsi dan pandangan tentang prestasi yang harus ditargetkan.Para guru menerapkan aturan-aturan yang semuanya bersifat sepihak dan kurang memperhatikan kepentingan siswa.
C.      Lingkungan Eksternal Persekolahan.
Suatu sistem persekolahan tidak berada dalam suatu dunia hampa (dunia vakum). Namun, sebagiannya itu bergantung pada lingkungan eksternalnya. Sudut pandang sosiologis yang demikian itu, mempunyai banyak implikasi terhadap penganalisaan sistem persekolahan.
Aspek pertama dari implikasinya ialah, dengan adanya perubahan-perubbahan demografis di dalam sistem social yang lebih benar (masyarakat), secara materil akan mempengaruhi komposisi kesiswaan pada suatu sistem persekolahan, dan karenanya, mungkin sekali menuntut adanya modifikasi-modifikasi kurikulum.
Aspek kedua ini ialah, bahwa kebanyakan aspek-aspek dalam penunaian fungsi persekolahan dipengaruhi oleh fenomena kelas sosial. Pelaksanaan penilaian beserta criteria yang digunakan di dalam evaluasi hasil belajar siswa, tampaknya ada hubungan dengan posisi kelas sosial si siswa dan si guru itu sendiri.
Aspek ketiga ini mempunyai implikasi penting terhadap persekolahan ialah struktur kekuasaan di masyarakat. Bahwasannya pengelolaan program pendidikan di sekolah-sekolah membutuhkan topangan dana yang tidak sedikit, dan hal tersebut, sedikit banyak ikut mempengaruhi mutu program dan hasil pendidikan.
Aspek keempat ini ialah, penganalisaan mengenai rantai penghubung antara sekolah dengan mesyarakat. Penelitian sosiologis telah menunjukkan pengaruh dari tingkah-laku para anggota Badan Pertimbangan Sekolah dan motivasinya untuk menduduki jabatan tersebut terhadap penampilan dan keputusan kerja para Penilik Kepala.
Aspek kelima ini ialah, bentrok dari telaahan terhadap kolflik antara peranan dimana para tenaga kependidikan dihadapkan pada benturan kepentingan dari posisi yang dipegangnya dalam sistem persekolahan dengan posisinya di dalam sistem sosial lain. Banyak harapan-harapan yang terkait dengan posisi guru, dalam kenyataannya berbenturan (konflik) dengan harapan-harapan posisi lain yang dipegangnya di luar sistem persekolahan.
Beberapa penemuan yang tak dipublikasi, hasil telaahan terhadap unsur penyelenggaraan persekolahan, memperlihatkan berbagai jenis konflik antar peranan yang dihadapi para Penilik Kepala. Sebanyak 20% Penilik Kepala melaporkan bahwa mereka menghadapi ketidak sejalanan harapan (incopertible expectitation) dari posisi yang dipegangnya secara simultan di lembaga pendidikan dan di lembaga keagamaan.
Jelas bahwa konflik antar peranan di antara posisi di sistem persekolahan dengan di lingkungan eksternal, merupakan sumber potensial utama lahirnya ketegangan di kalangan praktisi pendidikan, termasuk juga bagi para guru. Sehingga, tujuan dan analisis sosiologis, para praktisi pendidikan bisa secara lebih realistis dan peka mengkaji kekuatan-kekuatan majemuk yang ada dan berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pendidikan. Dengan sokongan penglihatan dan kosep-konsep sosiologis para praktisi pendidikan bisa lebih jeli memperhitungkan factor-faktor organisasi, budaya, dan personal di lingkungan kerjanya masing-masing.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari pemaparan materi tersebut, yakni sebagai berikut:
1.        Suatu sistem persekolahan mempunyai suatu tujuan organisasi yang menjadi arah dan mengarahkan system sosial bersangkutan, serta dalam organisasi persekolahan terdapat suatu arus jaringan kerja dari sejumlah posisi yang saling kait mengait di dalam rangka mencapai tujuan  organisasi.
2.        Di tinjau dari fakta yang ada, bahwa tugas pokok persekolahan (transaksi pendidikan) terutama berlangsung dalam sistem sosial yang relatif kecil, yakni di ruangan kelas itu sendiri. Sehingga, struktur kompetisi beserta pengaruhnya terhadap prestasi belajar, secara nyata mempunyai implikasi untuk mengisolasikan kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi “hasil belajar” sesuatu kelas.
3.        Adapun suatu sistem persekolahan bergantung pada lingkungan eksternalnya. Faktor-faktor eksternal dimaksud terhadap penunaian fungsi sekolah, termasuk masalah penting untuk dikaji. Sehingga, dengan tujuan dan analisis sosiologis, para praktisi pendidikan bisa secara lebih realistis dan peka mengkaji kekuatan-kekuatan majemuk yang ada dan berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pendidikan.






DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta. PT  Rieneka Cipta.
Ahmadi, Abu dan Nuruhbiyati. 2001. Ilmu Pendidkan. Jakarta. PT Rieneka Cipta.
Daradjat, Zakiah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta. Bumi Aksara.




















Pertanyaan :
1.     Yang memegang perana sentral dalam kelas adalah ?
Yang memegang peranan sentralnya yaitu guru, karena keberhasilan belajar mengajar antara lain di tentukan oleh kemampuan profesional dan pribadi guru dalam mengontol situasi dalam kelas agar kondusif. Sebagai pemegang peranan sentral guru juga dituntut untuk mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar terjadi perilaku belajar yang efektif pula dalam diri siswa. Dalam proses belajar mengajar, guru bisa sebagai motivator belajar .

2.     Jelaskan kembali iklim-iklim yang timbul di dalam kelas !
Ø Iklim terbuka
Tingkah laku guru yang menggambarkan integrasi antara kepribadian seorang guru sebagai individu dan peranannya sebagai pemimpin di dalam kelas. Yakni sikap terbuka yang dimiliki seorang guru selain memberikan kritik, juga mau menerima kritikan dari para siswa.
Ø Iklim Mandiri
Dalam iklim mandiri, masing-masing bendasarkan pada kemampuan dan tanggung jawab yang mereka miliki. Yakni para siswa mendapatkan kebebasan dalam memperoleh kebutuhan belajar dan sosial.
Ø Iklim Terkontrol
Dalam iklim ini titik sentral kebijakan seorang guru adalah menekankan pada pencapaian prestasi siswa dikelas, tetapi disisi lin justru mengorbankan kepuasan kebutuhan sosial siswa.
Ø Iklim Persaudaraan
Dalam iklim ini hubungan yang terjadi antara guru dan siswa sangat erat, baik dalam kegiatan belajar aupun kegiatan diluar pembelajaran.
Ø Iklim Tertutup
Seorang guru tidak memberikan kepemimpinan yang memadai kepada para siswa. Ia mengharapkan agar para siswa mengembangkan inisiatif masing-masing.

3.     Berikan contoh iklim persaudaraan !
Antara guru dan siswanya tidak adanya jarak sehingga bisa terjalin kominikasi yang baik. Seorang guru harus bisa memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pengajar dan murid tetapi juga sebagai teman mereka agar para siswa tidak merasa tertekan dan tidak canggung untuk menanyakan hal yang tidak timengerti oleh siswa.

4.     Jika ada seorang guru yang dikatakan galak, mengakibatkan siswa merasa takut lalu apa yang dilakukan oleh siswa tersebut ?
Siswa tersebut tidak boleh langsung mengecap guru itu galak, karena mungkin guru tersebut mempunyai maksud tertentu agar siswanya menjadi disiplin dalam proses pembelajaran. Seorang guru itu mempunyai caranya masing-masing dalam mengajar anak didiknya. Disamping sifatnya yang bisa dikatakan galak tentu mempinyai sisi baiknya. Jadi siwa tersebut harus memahami karakter seorang guru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar