JURNAL MAKALAH GENETIKA
Alzheimers Sebagai Bentuk Umum Dari Demensia
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah : Genetika
Dosen pengampu : Yuyun Maryuningsih S.si.M.pd
Disusun Oleh :
Hanifah Eka S
(14121610753)
IPA-Biologi
C / V
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH
NURJATI CIREBON
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan,
semakin banyak pula penemuan-penemuan yang telah menjawab pertanyaan-pertanyaan
serta ketidaktahuan manusia dalam fenomena alam serta kehidupan sehari-hari.
Banyak penyakit-penyakit yang pada zaman dahulu yang dianggap wajar-wajar
saja, akan tetapi berkat perkembangan ilmu pengetahuan manusia menjadi lebih
tahu bahwa ternyata penyakit yang pada zaman dahulu dianggap biasa dan wajar
adalah bukan sesuatu yang biasa dan wajar lagi bahkan berbahaya untuk kehidupan
yang menderita.
Contohnya yakni penyakit pikun (dementia) yang terjadi pada usia lanjut.
Banyak manusia berpikir bahwa pikun merupakan hal yang biasa dan wajar pada
usia lanjut. Akan tetapi, berdasarkan survey mengatakan bahwa banyak orang berusia
lanjut yang tidak pikun. Bahkan persentasi orang usia lanjut yang pikun dengan
yang tidak lebih banyak orang yang tidak pikun di banding dengan orang yang
pikun.
Beberapa penelitian lebih lanjut telah menjawab bahwa penyakit pikun pada
usia lanjut yang parah adalah penyakit mematikan. Penyakit ini disebut
Alzheimer. Nama penyakit Alzheimer ini jarang di dengar orang karena masih
asing dikalangan masyarakat. Alzheimer bukan merupakan bagian dari proses penuaan secara normal,
akan tetapi risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Lima persen orang yang berusia
di antara 65-74 tahun mengidap penyakit Alzheimer, dan hampir 50 persen orang
yang berusia lebih dari 85 tahun memiliki penyakit Alzheimer.
Hingga kini penyebab dari penyakit alzeimer
belum diketahui dengan pasti. Tetapi ada ilmuwan telah melakukan berbagai
penelitian dan percaya bahwa penyakit ini merupakan kombinasi antara genetik,
gaya hidup dan faktor lingkungan. Alzheimer merusak dan membunuh sel otak.
Selain itu ada beberapa faktor resiko seseorang mengalami alzheimers, yakni
akibat dari penyakit jantung, stroke, kolestrol yang tinggi, dan tekanan darah
yang tinggi. Faktor-faktor resiko tersebut dapat meningkatkan tingkat penyakit
alzheimers.
Penyakit alzheimers dapat dicegah tetapi baru
bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, dengan menurunkan hal-hal yang dapat
memicu timbulnya alzheimers. Hal-hal tersebut yakni dengan menurunkan kadar
kolestrol yang tinggi, mengendalikan diabetes, melakukan olahraga dengan
teratur, melakukan kegiatan yang bisa membantu merangsang otak untuk berfikir,
dan juga dapat dengan melakukan diet sehat dan seimbang bisa membantu kesehatan
serta meningkatkan kualitas hidup seseorang.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Alzeimers ?
2. Apa penyebab penyakit Alzheimers ?
3. Apa gejala-gejala penyakit Alzheimers ?
4. Bagaimana cara penyembuhan penyakit Alzheimers
?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Alzheimers
2. Untuk mengetahui penyebab penyakit Alzheimers
3. Untuk mengetahui gejala-gejala penyakit Alzheimers
4. Untuk mengetahui cara penyembuhan penyakit Alzheimers
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Alzeimers
Penyakit
Alzheimers ditemukan oleh seorang ahli Psikiatri dan neuropatologi yang bernama Dr.Alois Alzheimer pada tahun 1907,
dinamakan Alzheimer karena disesuaikan dengan nama penemunya. Ia mengobservasi
seorang wanita berumur 51 tahun, yang
mengalami gangguan intelektual dan memori serta tidak mengetahui kembali
ketempat tinggalnya, sedangkan wanita itu tidak mengalami gangguan anggota
gerak, koordinasi dan reflek. Alzheimer
menemukan bahwa syaraf otak penderita Alzheimer tidak hanya mengerut, bahkan
dipenuhi gumpalan protein luar biasa yang disebut
plak amiloid dan serat yang berbelit-belit (neuro fibrillary). Amiloid
protein yang
membentuk sel-sel plak protein tersebut dipercaya menyebabkan
perubahan kimia otak. Musnahnya sel-sel saraf ini menyebabkan syaraf otak yang berfungsi
untuk menyampaikan
pesan dari satu neuron ke neuron lain akan terpengaruh.
Menurut Aurpan (2014) penyakit Alzheimer (AD) adalah
bentuk paling umum dari demensia. Alzheimers adalah
penyakit otak progresif ireversibel yang ditandai dengan perkembangan amiloid plak dan kusutnya
neurofibrillary, yang menyebabkan hilangnya hubungan
antara sel-sel saraf, atauneuron, dalam otak, dan kematian sel-sel saraf.
Dengan adanya penuaan pada penderita masalah ini menjadi lebih
buruk.
Penyakit
Alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang secara epidemiologi terbagi
2 kelompok yaitu kelompok yang menderita
pada usia kurang 58 tahun disebut sebagai
early onset sedangkan kelompok yang menderita pada usia lebih dari 58 tahun
disebut sebagai late onset. (Iskandar. 2002)
Meskipun sudah lama ditemukan, tetapi penyakit
Alzheimers tidak terlalu terkenal seperti peyakit-penyakit lainnya yakni
hipertensi, ataupun penyakit jantung. Tidak terkenalnya penyakit Alzheimers
mungkin karena gejala-gejala penyakit ini tidak terlihat, berbeda dengan
penyakit hipertensi yang apat dipantau melalui pemeriksaan tekanan darah.
Penyakit Alzheimers tidak terdeteksi karena adanya anggapan bahwa sering lupa
adalah hal yang biasa dan wajar dialami orang berusia lanjut dikarenakan oleh faktor
usia. Padahal mungkin saja bahwa sering lupa
tersebut merupakan tanda awal dari penyakit
Alzheimer.
Awal penyakit Alzheimer terjadi pada orang yang
berusia antara 30 dan 60 tahun. Tetapi hal ini jarang terjadi, karena
terdapat kurang dari 5 persen orang yang menderita penyakit ini.
Kebanyakan kasus Alzheimer terjadi pada orang yang berusia
diatas 60 tahun, yang akan berkembang setelah 65 tahun.
Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya penyakit Alzheimers.
Berdasarkan
jenis kelamin, wanita lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan laki-laki. Hal
ini mungkin karena usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan laki-laki.
Dari beberapa penelitian tidak ada perbedaan terhadap jenis kelamin.
B.
Penyebab Penyakit Alzheimers
Faktor penyebab utama
timbulnya penyakit Alzheimers belum dapat dipastikan. Tetapi ilmuwan percaya
bahwa penyakit ini merupakan kombinasi antara genetik, gaya hidup dan faktor
lingkungan. Alzheimers merusak dan membunuh sel otak. Terdapat dua jenis
kerusakan sel otak (neuron) yang biasa terjadi pada orang yang pengidap Alzheimer :
1.
Plaques / plak
Gumpalan protein yang disebut beta-amyloid
mempengaruhi komunikasi antara sel-sel otak. Meskipun tidak diketahui ada kasus
Alzheimer yang menyebabkan kematian, fakta menunjukkan bahwa proses yang tidak
normal dari protein beta-amyloid kemungkinan menjadi penyebab.
2.
Tangles / kusut
Struktur pendukung dalam sel otak
tergantung pada normalnya fungsi protein bernama tau. Pada orang dengan
Alzheimer, benang protein tau mengalami perubahan yang menyebabkan mereka
menjadi tidak waras. Banyak ilmuan percaya bahwa ini adalah kerusakan neuron dan
dapat menyebabkan kematian bagi penderita Alzheimer.
Peneliti
menemukan gen yang bertanggung jawab untuk proses yang memodulasi potensial
membran yang terlibat dalam penyebaran sinyal dalam neuron (Hasil dan diskusi) pekerjaan. Inijuga berfokus pada gen yang bertanggung jawab untuk
memindahkan cairan ekstra seluler ke dan dari jaringan dalam organisme multisel
yang memvalidasi alasan perluasan cairan spinal Cerebral (CSF) Ruang mengurangi tingkat turnover CSF, sehingga mengorbankan tindakan wastafel CSF untuk membersihkan metabolit
berbahaya (misalnya,amiloid) dari
Sistem Saraf Pusat. Berkurang CSF dinamika sangat merugikan lingkungan interstisial neuron (kebanyakan
terjadi dengan penuaan). (Mrytiyunjay. 2014)
Selain itu isolasi sosial dapat menjadi salah satu
penyebab menurunnya kognitif dan munculnya Alzheimers. Trauma otak juga dapat
memicu timbulnya alzheimers. Alzheimers lebih rentan terhadap orang tua.
Penyakit ini berlangsung secara bertahap yakni tahap ringan/sedang dan tahap
yang sudah parah.
Beberapa alternatif penyebab penyakit alzheimers adalah
gangguan fungsi imunitas, infeksi virus, polusi udara/industri, trauma, neurotransmiter,
defisit formasi sel-sel filament, presdiposisi heriditer. Dasar kelainan
patologi penyakit alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal, kematian daerah
spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kognitif dengan
penurunan daya ingat secara progresif. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau
asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Kemungkinan sel-sel
tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan calsium intraseluler,
kegagalan metabolisme energi, adanya formasi radikal bebas atau terdapatnya
produksi protein abnormal yang non spesifik. (Iskandar. 2002)
Karena
penyebab pasti penyakit Alzheimer belum diketahui, maka tidak ada yang dapat
dilakukan untuk pencegahan. Namun ada beberapa hal yang diyakini bisa mengurangi resiko
terserang penyakit Alzheimer seperti pola makan sehat, berolahraga,
tidak merokok dan tidak minum minuman berakohol. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika,
tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa terdapat peran faktor
genetika, dan juga adanya peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut
terlibat, dimana faktor lingkungan hanya
sebagai pencetus faktor genetika dalam penyakit Alzheimers.
Terdapat beberapa patogenesa pada penyakit alzheimer,
yaitu:
1. Faktor genetik
Beberapa
peneliti mengungkapkan 50% kasus alzheimer ini diturunkan melalui gen autosomal
dominan. Individu keturunan garis pertama pada keluarga penderita alzheimer
mempunyai resiko menderita demensia 6 kali lebih besar dibandingkan kelompok
normal. Pemeriksaan genetika DNA pada penderita alzheimer dengan familial early
onset terdapat kelainan lokus pada kromosom 21 diregio proximal log arm,
sedangkan pada familial late onset didapatkan kelainan lokus pada kromosom 19. Begitu
pula pada penderita down syndrome mempunyai kelainan gen kromosom 21, setelah berumur 40 tahun terdapat
neurofibrillary tangles (NFT), senile plaque dan penurunan Marker
kolinergik pada jaringan otaknya yang menggambarkan kelainan histopatologi pada penderita
alzheimer.
Hasil penelitian penyakit alzheimer terhadap anak kembar menunjukkan 40-50% adalah monozygote dan 50% adalah dizygote.
Keadaan ini mendukung bahwa faktor
genetik berperan dalam penyakit alzheimer.
Pada sporadik non
familial (50-70%), beberapa penderitanya ditemukan kelainan lokus
kromosom 6, keadaan ini menunjukkan bahwa kemungkinan faktor lingkungan
menentukan ekspresi genetika pada
alzheimer.
2. Faktor Infeksi
Terdapat penelitian yang
menunjukkan penyebab infeksi virus pada keluarga penderita alzheimer yang dilakukan
secara immuno blot analisis, ternyata diketemukan adanya antibodi reaktif. Infeksi
virus tersebut menyebabkan infeksi pada susunan saraf pusat yang bersipat
lambat, kronik dan remisi. Beberapa penyakit infeksi seperti Creutzfeldt-Jacob disease
dan kuru, diduga berhubungan dengan penyakit alzheimer.
3. Faktor Lingkugan
Ekmann (1988), mengatakan bahwa
faktor lingkungan juga dapat berperan
dalam patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antara lain,
aluminium, silikon, merkuri, zinc.
Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat yang ditemukan neurofibrillary
tangles (NFT) dan senile plaque
(SPINALIS). Pada penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidak
seimbangan merkuri, nitrogen, fosfor,
sodium, dengan patogenesa yang belum jelas.
4. Faktor Imunologis
Behan dan Felman (1970) melaporkan
60% pasien yang menderita alzheimer didapatkan kelainan serum protein seperti
penurunan albumin dan peningkatan
alpha protein.
5. Faktor Trauma
Beberapa penelitian menunjukkan
adanya hubungan penyakit alzheimer dengan
trauma kepala. (Iskandar. 2002)
6. Faktor Neurotransmiter
Perubahan
neurotransmitter pada jaringan otak penderita alzheimer mempunyai peranan yang
sangat penting seperti:
a.
Asetilkolin
Barties et al (1982) mengadakan
penelitian terhadap aktivitas spesifik neurotransmiter dengan cara otopsi jaringan otak pada penderita
alzheimer didapatkan penurunan aktivitas kolinasetil transferase,
asetikolinesterase dan transport kolin serta penurunan biosintesa asetilkolin.
Adanya defisit presinaptik dan postsynaptik kolinergik ini bersifat simetris
pada korteks frontalis, temporallis superior, nukleus basalis, hipokampus.
Kelainan neurottansmiter
asetilkoline merupakan kelainan yang selalu ada dibandingkan jenis
neurottansmiter lainnya pada penyakit alzheimer, dimana pada jaringan otak
selalu ada kehilangan cholinergik Marker. Pada
penelitian dengan pemberian scopolamin pada orang normal, akan menyebabkan
berkurang atau hilangnya daya ingat. Hal ini sangat mendukung hipotesa
kolinergik sebagai patogenesa penyakit Alzheimer.
b.
Noradrenalin
Kadar metabolisme
norepinefrin dan dopimin didapati menurun
pada jaringan otak penderita alzheimer. Hilangnya neuron bagian dorsal lokus
seruleus yang merupakan tempat yang utama noradrenalin pada korteks serebri,
berkorelasi dengan defisit kortikal noradrenergik. Bowen et al(1988),
melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita alzheimer menunjukkan
adanya defisit noradrenalin pada presinaptik neokorteks. Palmer et al(1987),
Reinikanen (1988), melaporkan konsentrasi noradrenalin menurun baik pada post
dan ante-mortem penderita alzheimer.
c.
Dopamin
Sparks et al (1988), melakukan
pengukuran terhadap aktivitas neurottansmiter regio hipothalamus, dimana tidak
adanya gangguan perubahan aktivitas dopamin pada penderita alzheimer. Hasil ini
masih kontroversial, kemungkinan disebabkan karena potongan histopatologi regio
hipothalamus setiap penelitian berbeda-beda.
d.
Serotonin
Didapatkan penurunan kadar serotonin
dan hasil metabolisme 5 hidroxi-indolacetil acid pada biopsi korteks serebri
penderita alzheimer. Penurunan juga didapatkan pada nukleus basalis dari
meynert. Penurunan serotonin pada subregio hipotalamus sangat bervariasi,
pengurangan maksimal pada anterior hipotalamus sedangkan pada posterior
peraventrikuler hipotalamus berkurang sangat minimal. Perubahan kortikal
serotonergik ini berhubungan dengan hilangnya neuron-neuron dan diisi oleh formasi
NFT pada nukleus rephe dorsalis.
e.
MAO (Monoamine Oksidase)
Enzim mitokondria MAO akan
mengoksidasi transmitter mono amine. Aktivitas normal MAO terbagi 2 kelompok. Pada penderita
alzheimer, didapati peningkatan
MAO A pada hipothalamus sedangkan MAO B meningkat
pada daerah temporal dan menurun pada nukleus basalis dari meynert. (Iskandar. 2002)
C. Gejala-Gejala Penyakit Alzheimers
Penyakit
Alzheimer dapat dimulai dengan hilangnya sedikit ingatan dan kebingungan,
tetapi akhirnya akan menyebabkan pelemahan mental yang tidak dapat diubah dan
menghancurkan kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir, belajar, dan berimajinasi.
Deteksi dini adalah hal penting dalam mengatasi Alzheimer, tetapi faktanya
seringkali sulit dilakukan karena gelaja kemunduran kerap dianggap sebagai
suatu hal yang biasa. Penderita
biasanya hanya menunjukkan gejala biasa seperti lupa, tetapi kemudian
berkembang progresif menjadi parah dan memperburuk fungsi kognitif dan fungsi
mental lainnya.
Setiap orang memiliki
penyimpangan dalam ingatan merupakan hal yang normal ketika anda lupa dimana
anda menaruh kunci rumah atau lupa nama orang yang jarang dilihat. Tetapi
masalah ingatan yang berhubungan dengan Alzhaimer berlangsung lama dan buruk.
Orang-orang dengan Alzhaimer mungkin mengulangi sesuatu yang telah
dikerjakannya, sering lupa dengan ucapan dan janji yang dilakukannya, pada
akhirnya lupa dengan nama anggota keluarga dan benda-benda yang biasa digunakan
dalam kesehariannya.
Orang yang terkena Alzheimer
sering hilang kemampuan untuk mengingat waktu dan tanggal, serta akan merasakan
diri mereka hilang di lingkungan yang sebenarnya familiar bagi mereka. Alzheimer
sangat sulit untuk melakukan sesuatu yang membutuhkan perencanaan, pengambilan
keputusan dan penilaian. Adapun orang
yang memiliki Alzheimer
dapat lupa bagaimana cara melakukan sesuatu bahkan
yang paling mendasar.
Gejala Alzheimer Berdasarkan National Alzheimer‘s Association
(2003), dibagi menjadi 3 tahap, yaitu :
1.
Ringan (lama penyakit 1-3 tahun), lebih sering binggung
dan melupakan informasi yang baru dipelajari, tersesat di daerah sekitar yang
dikenalnya dengan baik, bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin, mengalami
perubahan dalam kepribadian dan penilaian misalnya mudah tersinggung,mudah
menuduh ada yang mengambil barangnya bahkan menuduh pasangannya tidak setia
lagi/selingkuh.
2.
Gejala sedang (lama penyakit 3-10 tahun), kesulitan dalam
mengerjakan aktifitas hidup sehari–hari seperti makan dan mandi, perubahan
tingkah laku misalnya : sedih dan emosi, mengalami gangguan tidur, kesulitan
mengenali keluarga dan teman(pertama-tama yang akan sulit untuk dikenali adalah
orang-orang yang paling jarang ditemuinya, mulai dari nama, hingga tidak
mengenali wajah sama sekali. Kemudian
bertahap kepada orang-orang yang cukup jarang ditemui).
3.
Gejala berat
(lama penyakit 8-12 tahun), sulit /
kehilangan kemampuan berbicara, kehilangan napsu
makan, menurunya
berat badan, sangat tergantung pada caregiver/pengasuh, perubahan
perilaku misalnya : Mudah curiga, depresi, apatis atau mudah mengamuk.
Ada
kondisi lain yang merupakan gejala-gejala Alzheimers seperti depresi, cedera
kepala, ketidakseimbangan bahan kimia tertentu atau vitamin, atau efek dari
beberapa obat dapat menghasilkan gejala yang mirip dengan penyakit Alzheimer. Konsultasikan pada dokter jika muncul gejala-gejala tersebut.
Sebagian besar kondisi-kondisi tersebut dapat disembuhkan.
D. Cara Penyembuhan Penyakit Alzheimers
Belum ada metode pengobatan yang dapat menyembuhkan alzheimer. Tetapi saat
ini, alzheimer dapat diterapi dengan obat seperti
cholinesterase inhibitors dan memantine. Namun, obat hanya mengurangi gejala
dengan waktu terbatas, yaitu memengaruhi secara kimiawi sel-sel untuk membawa
pesan ke sel-sel otak.
Di pihak lain, sel punca dalam tubuh manusia memiliki kemampuan
regenerasi. Umumnya sel tubuh direproduksi dari sel punca yang berasal dari
organ terkait. Namun, sel dapat direproduksi dari sel punca organ lain. Sel punca
biasanya ditemukan di tulang, otak, darah, pembuluh darah, kulit, dan hati. Penyakit
yang berkaitan dengan saraf, seperti amyothropic lateral
sclerosis (ALS), parkinson, alzheimer, multiple sclerosis, cerebral palsy, spinal cord
injury, dan stroke, bias diterapi dengan sel dari tali plasenta bayi.
Pengobatan dengan sel punca sudah dilakukan di
Amerika Serikat, antara lain neurogenesis, yaitu dengan menstimulasi
sel di otak melalui oral dan zat yang disuntik. Selain itu dengan sel punca autologus,
yakni sel yang berasal dari pasien sendiri. Sel punca juga bisa diekstrak dari
plasenta (neuron) yang dicampur dengan brain neuropeptide, neurotrophins,
nerve cell faktor, dan vascular endothelial growth faktor yang
disuntikkan agar mampu melewati sawar darah otak atau
disuntikkan ke spinal canal (saraf tulang belakang) dan pusat sistem saraf. Sel
punca plasenta termasuk yang memiliki banyak kemungkinan dan
kemampuan untuk ditransformasikan ke sel banyak organ. Ketika sel punca tali
plasenta ditempatkan di dalam media dengan nerve growth factor dan
brain neurotropic faktor, sel punca
otak akan berkembang menjadi sel otak dan sel di pusat sistem saraf.
Pengobatan juga dapat dilakukan dengan stem cell. Ada tiga cara kunci di mana sel-sel induk dapat
digunakan untuk mengobati penyakit Alzheimer. Pertama, dengan menggunakan sel
induk untuk menumbuhkan bagian otak yang telah terkena penyakit. Dimungkinkan
menggunakan metode ini untuk menumbuhkan kembali bagian otak, bagian yang baru
dibuat tidak akan memiliki kenangan yang ada pada bagian yang rusak. Penderita
Alzheimers mungkin memiliki bagian regenerasi dari otak dan tidak menunjukkan
tanda-tanda negatif dari penyakit, tetapi penderita tidak akan lagi memiliki
kenangan yang telah dibuat selama seumur hidup.
Cara kedua adalah dengan menggunakan jenis sel
bukan sebagai metode membangun kembali otak, melainkan akan digunakan sebagai
cara untuk menyembuhkan daerah yang rusak dari otak. Dlam metode ini bukan dengan
menggantikan neuron yang rusak di otak, melainkan sel-sel ini akan digunakan
untuk menyembuhkan neuron yang rusak.
Cara ketiga bahwa sel induk dapat digunakan dalam
pengobatan Alzheimer adalah dengan menggunakan sel-sel sebagai jenis sistem
pengiriman obat. Pemberian obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit
melalui IV atau pil, sel-sel akan digunakan untuk membawa obat langsung ke
daerah yang rusak dari otak. Metode pengiriman akan memastikan bahwa obat yang
disampaikan lebih efektif. Meskipun telah ada kemajuan dalam menggunakan sel
induk untuk mengobati penyakit Alzheimer, penelitian lebih lanjut dan uji coba
akan membantu mengungkap pengobatan tambahan. Ada banyak cara yang belum
ditemukan di mana sel-sel induk dapat membantu menjaga dan mencegah penyakit
dari berkembang. Jumlah pengetahuan yang ditemukan saat ini miliki peranan
penting untuk bagaimana sel-sel induk dapat membantu dalam pengobatan penyakit
Alzheimer yang akan terus tumbuh.
Pengobatan penyakit alzheimer masih sangat terbatas
oleh karena penyebab dan
patofisiologis masih belun jelas. Pengobatan simptomatik dan suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita
dan keluarga. Pemberian obat stimulan, vitamin B, C, dan E belum mempunyai efek
yang menguntungkan.
Beberapa tahun terakhir ini, banyak peneliti
menggunakan inhibitor untuk pengobatan simptomatik penyakit alzheimer, dimana
penderita alzheimer mengalami penurunan kadar
asetilkolin. Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase yang bekerja
secara sentral seperti fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine). Pemberian
obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori
danapraksia selama pemberian berlangsung. Beberapa peneliti menyatakan bahwa obat-obatan anti kolinergik akan dapat memperburuk
penampilan intelektual pada orang normal dan penderita alzheimer.
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Penyakit Alzheimer adalah bentuk paling umum dari demensia. Alzheimers adalah penyakit otak progresif ireversibel yang ditandai dengan perkembangan amiloid plak dan kusutnya
neurofibrillary, yang menyebabkan hilangnya hubungan
antara sel-sel saraf, atauneuron, dalam otak, dan kematian sel-sel saraf.
Dengan adanya penuaan pada penderita masalah ini menjadi lebih
buruk.
Faktor penyebab utama timbulnya penyakit Alzheimers belum dapat dipastikan.
Tetapi ilmuwan percaya bahwa penyakit ini merupakan kombinasi antara genetik,
gaya hidup dan faktor lingkungan. Alzheimers merusak dan membunuh sel otak.
Penyakit Alzheimer dapat dimulai dengan
hilangnya sedikit ingatan dan kebingungan, tetapi akhirnya akan menyebabkan
pelemahan mental yang tidak dapat diubah dan menghancurkan kemampuan seseorang
dalam mengingat, berpikir, belajar, dan berimajinasi. Orang-orang dengan Alzhaimer mungkin mengulangi sesuatu yang telah
dikerjakannya. Belum ada metode pengobatan yang dapat menyembuhkan alzheimer. Akan tetapi
beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengatasi penyakit Alzheimers dengan
menggunakan obat-obatan maupun terapi yakni dengan sel punca atau stem sell.
DAFTAR PUSTAKA
Majumder, Aurpan and Mrityunjay
Sarkar. 2014. Exploring Different Stages Of Alzeheimer’s Disease Through Topological
Analysis Of Differentially Expressed Genetic Network. International Journal
of Computer Theory and Engineering, Vol.
6, No. 5.
Japardi, Iskandar. 2002. Penyakit Alzheimers.
Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara.