Kulit
Sebagai Sistem Imun
Hanifah
Eka S
Winda
Aristia
Biologi
C/VI
ABSTRAK
Kulit merupakan suatu organ pada tubuh manusia yang
membatasi dengan lingkungan luar. Salah satu fungsi dari kulit adalah sebagai
sistem imun yang memproteksi tubuh dari serangan benda asing. kulit dapat
melakukan fungsinya sebagai sistem pertahanan tubuh dengan beberapa proses.
Dalam kulit itu sendiri, sudah terdapat suatu sel yang dapat menjaga kulit dari
serangan benda asing. Sel itu dikenal dengan nama sel langerhans yang terdapat
di lapisan epidermis. Selain itu, terdapat juga suatu substansi antijamur,
yaitu unsatturated transferin dan alfa2 makroglobulin keratinase
inhibitor yang mencegah invasi jamur dermatofita dan mencegah pertumbuhan
organisme pada lapisan yang lebih dalam. Jika sel langerhans dan keratinisasi
ini gagal dalam menghadapi mikroorganisme patogen, maka selanjutnya akan datang
banntuan dari mediator inflamasi seperti netrofil, limfosit, komplemen, PMN,
dan aktivasi faktor penghambat serum (serum inhibitory factor) yang
disebut proliferasi epidermis. Proliferasi epidermis inilah yang termasuk
sistem imun non spesifik dari kelompok selular. Kulit merupakan benteng
pertahanan pertama dari berbagai ancaman yang datang dari luar, seperti
bakteri. Sel-sel langerhans yang terdapat dalam lapisan kulit epidermis kulit
merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Kulit memiliki tiga lapisan,
yaitu epidermis, dermis, dan subkuntan.
Kata Kunci : Kulit, Apel, Sistem imun non spesifik
1. Pendahuluan
Apel
merupakan salah satu buah yang identik dengan warna kulit buah yang merah.
Hampir semua orang tentu tak asing lagi dengan bentuk dan rasa apel itu
sendiri. Buah ini banyak tersedia di pasar, supermarket atau tempat
perbenlanjaan yang lebih besar. Karena di golongkan kedalam buah-buahan, maka
apel tentunya mengandung berbagai nutrisi serta vitamin yang berperan penting
dalam meningkatkan kualitas kesehatan tubuh seseorang. Untuk itulah, mulailah
rutin mengkonsumsi buah ini, untuk menghindarkan tubuh dari berbagai penyakit.
Kulit apel diketahui mampu mengurangi lemak, kadar gula darah, kolesterol, dan
trigliserida dalam tubuh. Maka itu, tak mengherankan bila kulit apel kerap
dijadikan sebagai bahan pengobatan otot dan gangguan metabolisme seperti
diabetes.
Sistem
imun tubuh secara garis besar terbagi atas sistem imun non spesifik dan
spesifik. Sistem imun non spesifik bertugas sebagai lini pertama dalam pertama
melawan benda asing. Sistem imun non spesifik terbagi menjadi tiga jenis yaitu
yang bersifat fisik, larut, dan selular. Sedangkan sistem imun non spesifik
terbagi latas humoral dan selular. Kulit itu sendiri termasuk dalam bagian
sistem imun non spesifik yang bersifat fisik. kulit dapat melakukan fungsinya
sebagai sistem pertahanan tubuh dengan beberapa proses.
2. Alat dan
Bahan
-
Tusuk gigi -
Apel 4 buah
-
Spidol -
Apel busuk 1 buah
-
Kapas -
Alkohol
-
Tissue
3. Cara Kerja
a.
Semua apel dicuci bersih. Dimasukkan
apel pertama dalam kantong plastik dan diberi label 1.
b.
Bagian daging potongan apel yang busuk dikorek dengan tusuk gigi. Dioleskan
perlahan pada permukaan kulit apel kedua tanpa melukai kulit apelnya sebanyak 3
kali. Kemudian dimasukkan apel kedua dalam kantong plastik dan diberi label 2.
c.
Diulangi langkah ke 2 tetapi setelah mengorek potongan apel busuk, dilukai
kulit apel ketiga dengan dibuat goresan yang vertikal sebanyak 3 kali. Setelah
itu apel ketiga dibungkus dengan kantong plastik dan diberi lebel 3.
d.
Diulangi langkah 3 pada apel keempat. Namun setelah dilukai, dioleskan
bagian yang tergores dengan kapas yang dicelup dengan alkohol. Diulangi
sebanyak berkali-kali. Kemudia apel keempat dimasukkan ke dalam kantong plastik
dan diberi label 4.
e.
Kondisi masing-masing apel diperiksa tanpa membuka plastiknya setiap hari
selama 5 hari.
4. Hasil
Hari ke
|
Tanggal
|
Kondisi Apel
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Jum’at, 13 Maret 2015
|
Baik, Keras, Tidak Terjadi
Pembusukan
|
Baik, Keras, Tidak Terjadi
Pembusukan
|
Terjadi Pembusukan, bagian yang telah dilukai telah berubah warna menjadi kecoklatan
|
Terjadi Pembusukan, Timbul warna kecoklatan yang jumlahnya lebih banyak
dibandingkan dengan apel ke 3
|
2
|
Sabtu, 14 Maret 2015
|
Baik, Keras, Tidak Terjadi
Pembusukan
|
Baik, Keras, Tidak Terjadi
Pembusukan
|
Bagian yang telah dilukai berubah warna
menjadi kecoklatan
|
Jumlah warna kecoklatan pada kulit apel ke 4 semakin banyak
|
3
|
Minggu, 15 Maret 2015
|
Baik, Keras, Tidak Terjadi Pembusukan
|
Baik, Tidak terjadi Pembusukan
|
Kondisinya sama seperti hari ke 2
|
Munculnya jamur berwarna putih yang membuat luka pada apel semakin dalam
dan membesar
|
4
|
Senin, 16 Maret 2015
|
Baik, Keras, Tidak Terjadi
Pembusukan
|
Baik, Keras, Tidak Terjadi
Pembusukan
|
Munculnya jamur yang berwarna putih menutupi dibeberapa luka
|
Munculnya cairan yang berbau, serta apel sudah mulai lembek
|
5
|
Selasa, 17 Maret 2015
|
Baik, Keras, Tidak Terjadi
Pembusukan
|
Muncul beberapa bintik hitam yang menandakan terjadinya pembusukan
|
Jamur semakin bertambah sehingga menyebabkan luka pada apel tersebut semakin dalam dan lebar
|
Berwarna kecoklatan hampir di seluruh permukaan dan timbul bau yang tidak
sedap
|
5. Pembahasan
Berdasarkan
hasil dari pengamatan yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa perlakuan
yang dilakukan pada ke empat apel memiliki masing-masing perelakuan yaitu
pertama di sediakan 5 apel, apel yang pertama merupakan apel busuk dan keempat
apel lainnya apel yang memiliki kulit yang mulus. Perlakuan pertama semua apel
yang berkulit mulus di cuci bersih, kemudian apel yang pertama setelah dicuci
dimasukan dalam kantong plastik tanpa perlakuan dan di beri label 1.
Selanjutnya apel yang ke dua di oleskan daging apel busuk tanpa melukai kulit
apel, kemudian apel tersebut dimasukan dalam kantong plastik dan diberi label
2.
Selanjutnya
apel yang ke tiga di beri perlakuan di oleskan apel busuk sebanyak tiga kali
olesan dan di lukai kulit apelnya lalu dimasukan dalam kantong plastik dan
diberi label 3. Selanjutnya apel yang ke empat dilukai dan diberi olesan
alkohol , lalu diberi olesan apel busuk, kemudian dimasukan dalam kantong
plastik dan diberi label 4. Setelah selesai ke empat kantong yang berisi apel
tersebut di amati tiap harinya selama tujuh hari dan diamati perubahannya.
Hasil dari pengamatan selama tujuh hari pada apel yang berlabel no 1 dan 2
tidak terjadi perubahan pada kulit apel, karena apel yang pertama tidak di
tambahkan perlakuan serta dijadikan sebagai kontrol, dan apel yang kedua yang
di beri perlakuan dengan di oleskan apel busuk
terjadi perubahan bentuk dan bau. Namun apel yang berlabel no 3
mengalami pembusukan yang ditimbulkan oleh jamur, karena pembusukan akan
lebih cepat terjadi jika terdapat luka. Dan pada kondisi kulit pada apel ke 2
sangatlah baik sehingga bisa memperlambat terjadinya pembusukan.
Apel yang
berlabel no 4 mengalami perubahan dari yang warnanya cokelat menjadi berwarna
hitam dan berbau busuk dikarenakan tumbuhnya mikroorganisme seperti jamur yang
menyebabkan busuk pada kulit apel, alkohol yang dioleskan pada apel nomor 4 berperan
sebagai antiseptik pada apel, alkohol dapat membunuh kuman yang ada pada sebuah
luka. Namun pada percobaan kami, pembusukan lebih cepat terjadi pada apel yang
di beri alkohol. Hal ini mungkin disebabkan oleh jumlah alkohol yang dioleskan
pada luka di apel ke 4 terlalu sedikit. Percobaan ini layaknya sistem
pertahanan kulit manusia. Hal tersebut menunjukan bahwa apabila sistem
kekebalan tubuh seseorang kuat maka tidak akan mudah terserang virus, tetapi
jika lemah maka akan mudah terserang virus atau bakteri yang secara cepat akan
berkembang dalam tubuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar